Pendidikan Anak, Antara Kepintaran dan Kesopanan
Di zaman saya kecil dulu, zaman main layangan dan gobak sodor adalah game favorit sekampung, ada dua jenis anak yang sering dielu-elukan oleh orang tua:
- Anak yang ranking 1 di kelas.
- Anak yang ranking 1 di kelas dan sopan.
Tapi ternyata, makin ke sini, kategori nomor dua itu semakin berkurang bahkan langka. Anak ranking 1, banyak, tapi kalau ke warung manggil si ibu warung pakai nada militer: “Bu! permennya dua!”
Tegas dan datar. Tanpa tolong. Tanpa senyum. Tanpa terima kasih. Padahal ia tahu bahwa ibu warung itu juga manusia, bukan dispenser 24 jam.
Mungkin ini dianggap wajar, memang zamannya sekarang begitu.
Tapi, Pertanyaannya, kita sebagai orang tua, lagi ngarahin anak ke mana sih sebenarnya? Jadi anak pintar dan rangking 1 di kelas? Atau anak rangking 1 di kelas dan juga sopan?
Dunia kerja sekarang sudah keras, betul itu. Memang butuh generasi yang disiplin, cerdas dan menguasai ilmu pengetahuan untuk bisa bersaing. Apalagi buat anak-anak kita nanti. Mereka akan hidup di masa depan yang penuh dengan AI, robot, dan mungkin meeting tanpa ujung di Zoom 12.0.
Tapi sekeras-kerasnya dunia, kita nggak bisa membiarkan anak kita jadi keras kepala, keras hati, dan keras suara pas ngomong ke orang tuanya.
Pendidikan akademis penting, saya setuju. Tapi kalau anak bisa ngerjain kalkulus sambil ngemil, tapi nggak ngerti cara antri di kantin atau bilang “maaf” waktu menginjak kaki orang, itu sebenarnya kita sedang mencetak robot, bukan manusia.
Kadang saya berfikir, kenapa kita rajin banget masukin anak ke les Matematika, les Bahasa Inggris, les mata pelajaran sekolah, bahkan les ngaji… tapi lupa les yang paling penting: les jadi manusia.
Les ini nggak ada brosurnya, enggak ada brandingnya. Tapi ada di mana-mana. Les ini ada di rumah saat bersama keluarga. Di mobil saat antar anak.
Ketika di meja makan waktu sarapan buru-buru sambil ngejar absen kantor. Kita pikir anak tidak memperhatikan? Mereka memperhatikan, menyerap dan dan jadi nilai yang mereka yakini.
Ketika tiap hari anak melihat kita nyetir sambil marah-marah ke pengendara lain, itu pelajaran buat mereka, dan jadi nilai yang mereka pegang.
Sebaliknya, kalau mereka lihat kita bilang “tolong” ke tukang parkir, itu juga pelajaran. Kita bilang terima kasih kepada cleaning service dan penjaga minimarket, itu juga pelajaran. Maka, kalau tiap malam kita lebih sering ngajarin mereka soal Pythagoras dan hukum kekekalan energi ketimbang ngajak ngobrol soal empati, jangan heran kalau nanti mereka jago cari akar kuadrat, tapi nggak paham akar masalah hubungan manusia. Mereka pinter bikin software dan mesin tapi bingung bagaimana caranya adil terhadap sesama manusia.
Sungguh, bangsa yang maju bukan cuma diukur dari berapa banyak ilmuwan, tapi juga dari berapa banyak orang yang tahu caranya menghormati sesama.
Jadi, yuk, kita bikin pendidikan anak lebih berimbang. Les matematika dan bahasa Inggris? Oke gas! Tapi jangan lupa: ajarin mereka juga cara jadi manusia yang punya empati. Punya tanggung jawab, etika dan sopan santun.
Di dunia yang makin canggih ini, kemajuan tanpa moral itu seperti Wifi kenceng tanpa password tanpa proteksi. Semua bisa pakai, semua bisa akses apapun, dan lama-lama rusak. Rusak Wifinya rusak juga orangnya.
Salam hangat dari seorang bapak yang juga lagi belajar jadi guru kehidupan di rumah sendiri.