Hari Anak Nasional: Kasih Sayang dan Perhatian itu Bukan Sekadar Perayaan
Hari Anak Nasional: Kasih Sayang dan Perhatian itu Bukan Sekadar Perayaan
Setiap tanggal 23 Juli, kita memperingati Hari Anak Nasional. Tujuan adanya peringatan ini sangat mulia, yaitu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya memenuhi dan melindungi hak-hak anak dalam proses tumbuh dan berkembangnya, agar masa depan negara menjadi lebih baik.
Banyak sekolah yang mengadakan acara khusus, kadang begitu meriah: ada upacara hari anak, pentas seni, lomba mewarnai, pemberian hadiah, atau kegiatan semarak lainnya. Tak lupa pula status WhatsApp yang kompak menampilkan peringatan Hari Anak Nasional.
Tapi di balik itu semua, ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama:
Apakah cukup merayakan anak hanya satu hari dalam setahun?
Sebenarnya, anak itu pengen didengar setiap hari
Sebagai orang tua, saya sering melihat bagaimana anak-anak berbinar bahagia ketika mereka merasa dihargai dan didengar. Tidak melulu karena hadiah atau pujian, tapi karena ada yang benar-benar meluangkan waktu untuk mereka. Hadir untuk bertanya, menemani dan mendengarkan.
Anak-anak sebenarnya lebih butuh kehadiran kita sebagai orang tua, kasih sayang yang tidak bersyarat, dan bimbingan yang sabar untuk segala tingkah polah mereka. Tentu saja, itu tidak cukup jika hanya dilakukan hanya di Hari Anak.
Pendidikan, bukan hanya tentang sekolah, les atau nilai tinggi
Sebagian besar orang tua, menganggap anak adalah investasi masa depan. Alasan itu membuat para orang tua berusaha memberikan pendidikan ‘terbaik’ untuk anak-anaknya. Namun demikian, banyak di antara kita para orang tua, memahami pendidikan pada anak hanya sebatas pada pencapaian akademis saja. Ukurannya macam-macam, mulai dari nilai ujian, nilai raport, masuk sekolah favorit, ikut les tambahan, ikut kursus mahal dan ikut ekskul. Seolah itu menjadi kunci tunggal kesuksesan anak.
Padahal, sebenarnya pendidikan adalah tentang membentuk manusia yang utuh, bukan hanya akademis. Utuh seperti apa? Anak yang utuh adalah anak yang selain memiliki kemampuan akademis, tapi juga tahu bagaimana bersikap terhadap orang tua, menghargai teman, hormat kepada guru, jujur, dan punya integritas. Pada bagian ini, pendidikan tentang nilai moral dan ajaran agama adalah bagian pentingnya. Sayangnya, bagian penting ini sering terabaikan, karena memang tidak bisa diukur lewat angka atau sertifikat.
Percayalah, anak yang hari ini diajarkan tentang cara menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, anak yang tahu arti bersyukur dan saling tolong, anak yang berani ambil risiko dan berani bertanggungjawab, justru sedang dibentuk menjadi pemimpin masa depan. Semua itu, berawal dari pendidikan karakter, bukan dari hafalan atau lembar ujian.
Setiap anak unik, maka bimbinglah sesuai potensinya
Selama bertahun-tahun mengamati anak-anak belajar, saya menyaksikan satu hal yang selalu konsisten: setiap anak memiliki potensinya masing-masing. Ada yang cepat menangkap pelajaran, ada yang lebih lambat tapi kreatif. Ada yang pandai berhitung, ada pula yang senang bercerita atau mencipta lagu. Ada yang akademisnya kurang tapi begitu peduli sama teman-teman.
Begitulah anak-anak.
Tugas kita sebagai orang tua bukan menyamaratakan mereka dengan teman-temannya. Justru, kita perlu membantu mereka untuk menemukan dan mengasah potensinya masing-masing. Artinya, kita juga harus terbuka terhadap pendekatan yang berbeda, termasuk memilih sekolah atau lingkungan belajar yang sesuai dengan kebutuhan unik tiap anak dan bisa mengembangkan potensi nya, baik dari sisi akademis, karakter maupun agamanya.
Hari Anak Nasional, harinya kita mengevaluasi cara kita jadi orang tua.
Hari Anak Nasional seharusnya bukan hanya menjadi ajang seremonial atau pasang status WhatsApp belaka. Tapi momen refleksi bersama. Apakah selama ini kita telah benar-benar hadir untuk anak-anak? Apakah kita sudah memberi mereka ruang untuk tumbuh, berekspresi, dan menemukan potensi mereka?
Kita sama-sama tahu, anak-anak adalah cerminan masa depan bangsa. Jika kita ingin Bangsa Indonesia yang lebih baik, mulailah dengan memperlakukan anak-anak kita dengan kasih sayang, perhatian dan pendidikan yang lebih baik, bukan hanya hari ini, tapi setiap hari.
Selamat Hari Anak Nasional.
Jangan pernah lelah belajar menjadi orang tua yang layak menjadi teladan bagi anak-anaknya.
Slamet Wahyudin, S.Pt
Direktorat Yayasan Sosial Al Irsyad Cilacap